deceasd.jpg

DECEASD

penulis: Benjamin Feiner

####

Aku benci pekerjaanku!

Aku biasanya pendiam. Dan ironisnya, aku justru bekerja sebagai operator call centre. Yah memang sedih. Pekerjaan ini kadangkala bisa menjadi berat. Bayangkan berbicara dengan ratusan orang tiap hari, namun masih merasa kesepian. Aku tak memiliki interaksi yang sesungguhnya dengan orang lain selain melalui telepon. Aku hanya menatap layar dan berbicara dengan orang yang mau memesan pakaian dari katalog kami dan belum tahu cara memesan online melalui internet. Yah, bisa kalian tebak, kebanyakan dar mereka adalah manula. Maksudkku, benar-benar tua. Sebagian besar dari mereka baik sih. Namun tetap saja ada penggerutu di sana dan di sini, namun untunglah pekerjaan ini sama sekali tak membuatku stress. Hanya saja aku bukan tipe orang yang suka bicara dan banyak penelepon suka ngobrol tentang cucu2 mereka ketimbang memesan sesuatu. Alasan aku mengatakan hal ini karena kemarin aku mendapatkan telepon yang takkan pernah kulupakan.

Kejadian itu diawali seperti biasa.

"Terima kasih sudah menghubungi Dartmouth Clothing. Nama saya Benjamin. Apa yang bisa saya bantu?"

Aku sudah mengucapkan kaliamt itu ribuan kali hingga terasa seperti reflleks bagiku. Aku bahkan sampai takut aku akan menjawab seperti itu juga kalau ada saudara atau teman yang meneleponku.

"Halo?"

Suaranya terdengar kuno. Oke. Ini akan menjadi salah satu telepon dimana mikrofon sudah berada tepat di mulutku dan aku masih harus berteriak.

"Ya, Bu? Di sini Benjamin dari

Dartmouth Clothing. Apa yang saya bantu?"

"Oh, haloooo anak muda!" ia berkata dengan nada riang yang aneh.

"Halo, apa anda ingin memesan sesuatu?"

"O ya, saya mengingin-kan sesuat-tu dari-mu ..."

Aku tak tahu apakah teleponnya menjadi putus2 atau apa, sebab suaranya terdengar patah2.

"Baik, apa anda memiliki nomor pelanggan?"

Ia menyebutkan angkanya dan mengetiknya di atas keyboard. Semua keterangan mengenainya muncul di layar kurang dari sedetik.

"Baiklah, jadi saya sedang berbicara dengan ... Eileen?"

"Ya, be-nar ..."

"Alamat anda di 112 Hickory Avenue di Parkersburg?"

"I-ya ..."

Ah, gangguan ini lagi, pikirku. Darimana wanita ini menelepon?"

"Oke bu, kapanpun anda siap anda dapat ..."

Aku tak memperhatikannya sebelumnya, namun di bagian atas halaman profil pelanggan kami terdapat kolom yang menyatakan status terbaru klien kami, apakah "berhutang", "tidak aktif", atau bahkan "blacklist". Namun di sana hanya ada satu kata.

ALMARHUM

Aku membeku. Apa-apaan ini? Aku tak bisa memikirkan apa yang terjadi.

"Apa kau disanaaaa, nak?"

Dia terbatuk. Atau suara yang aku pikir suara batuk. Suaranya lebih mirip sebuah degukan kering.

"Uh, ya Bu ... saya masih di sini ..."

Aku kehilangan ketenanganku. Ini bnar2 membuatku merinding. Tulisan ini masih ada di sana, berpijar di layarku.

ALMARHUM

Mengingat kejadian ini, aku merasa seharusnya aku sesegera mungkin memtuskan telepon itu. Namun aku tidak. Dan aku harus menanggung resiko terkutuknya.

Ada momen kesunyian sejenak dan kemudian, enak dari mana, nada suara wanita itu naik dengan tajam. Terdengar suara tawa. Tawa yang kering.

"A-ku ingin sesuatu dari-mu ..."

Kemudian aku mendengar suara, "Tik tik ... tik tik ..."

Sepertinya aku mengenal suara itu, namun aku tak bisa mengingat, suara apa itu.

Aku tak tahan lagi. Akhirnya aku memutuskan telepon itu dan melepaskan headset-ku. Aku tak bisa tidur dengan nyenyak saat itu. Kuputuskan untuk menyalakan lampu kamar sepanjang malam. Namun aku benar2 tak bisa mengeluarkan pengalaman itu dari kepalaku.

Akhirnya ketika fajar menjelang, barulah aku teringat suara apa itu.

Suara "Tik ... tik ..." yang kudengar di telepon.

Cobalah buka mulutmu dan ketukkan gigi2mu bersamaan.