istiqamah.jpg Sebelum menceritakan ini, saya mau bertanya! Pernahkah kita berpikiran tentang hal dan barang tak berharga dan bernilai kecil disekitar kita untuk kemudian kita kembangkan menjadi suatu yang bernilai dan berbobot? Nah, mungkin cerita di bawah ini dapat menginspirasi kita agar dapat berkreatif diri dan bijak dalam menjalani hidup dan kehidupan. Ok! Seperti apa sih ceritanya. Mari kita simak.

  • Baca Cerita Sebelumnya:

Seorang pedagan sajadah sedang duduk di sebuah toko yang berada di pasar pusat kota Ashfahân. Saat itu, ia melihat ada seseorang lelaki yang bolak-balik melewati jalanan di hadapannya sambil melihat-lihat ke tanah, seolah-olah mencari sesuatu yang jatuh atau hilang. Tak hanya kali ini pedagang sajadah melihatnya, keesokan harinya pun sama. Orang itu terlihat bolak-balik sambil melihat ke tanah. Karena heran. Lantas pedagang itu pun bertanya, "Kulihat sepertinya Anda sedang mencari sesuatu? Apa ada yang hilang?" Laki-laki tersebut menjawab, "Ya, aku telah menyia-nyiakan keberuntunganku di negara ini." Dari jawabannya dapat di ketahui bahwa dia bukan penduduk asal kota Ashfahân. Kemudian pedagang tersebut berkata, "Bagaimana mungkin seseorang menyia-nyiakan keberuntungan disini?" Laki-laki itu lantas menjawab, "Aku berasal dari kota Yazd. Aku merasakan dunia terasa menghimpitku di sana. Jadi aku datang kesini. Aku sudah mendengar banyak hal tentang kota ini, bahkan ada yang berkata padaku kalau disini harta dibuang ke tanah pasar. Maka dari itu, anda melihat saya yang tampak mencari sesuatu. Namun, setiap kali aku mencari harta yang dibuang di tanah, aku tidak pernah mendapat sedikit pun. Begitulah, aku telah menyia-nyiakan keberuntunganku di tengah kalian." Kemudian pedangang itu berkata, "Apa yang dikatakan mereka tentang negara kami memang benar. Secara rill, disini harta memang benar-benar dibuang ke tanah. Namun, kau tidak mengetahui bagaimana cara memungutnya. Segala sesuatu pasti ada caranya dan aku akan mengajarkan kepadamu dengan syarat kau akan melaksanakan semua pelajaran dariku dengan sabar dan teliti. Apakah kamu siap untuk menjalaninya?" Laki-laki itu menjawab dan sepertinya ia tidak percaya, "Baiklah. Kita bisa memulainya dari sekarang." Pedagang itu berkata, "Anggaplah kau bekerja padaku tanpa upah. Yang harus kau lakukan sekarang adalah berjalan di jalan-jalan yang ada di sekeliling kita dan memungut apa-apa yang dibuang oleh orang, baik berupa potongan-potongan kain, kayu, besi, dan segala yang dapat dimanfaatkan manusia, walau itu hanya sesuatu yang remeh, kemudian bawa kepadaku." Laki-laki tersebut bertanya. "Lalu apa?" Pedagang itu menjawab, "Bersabarlah, pada saatnya nanti pasti akan kuceritakan." Kemudian laki-laki itu melakukan apa yang di perintahkan padanya. Pada sore harinya dia sudah mengumpulkan barang-barang itu dalam jumlah yang lu manyun lumayan banyak. Pembokat Pedagang tersebut berkata, "Besok bawalah potongan-potongang kain ini ke pedagang kain, pongan kayu ke tukang kayu, dan besi ke pandai besi. Juallah kepada mereka dengan harga berapa pun, di bayar sedikit itu wajar. Lumayan walau sedikit, nanti berikan uangnya padaku."
Begitulah kegiatan sang waria lelaki setiap harinya dalam waktu yang relatif lama. Kini, uang simpanan dari hasil tersebut sudah lumayan terkumpul cukup banyak. Cukup untuk dibelikan barang dagangan yang murah. Barang itu merupakan upah dari mengumpulkan barang-barang buangan di jalanan. Pedagang tersebut berkata kepada laki-laki itu, "Ambillah harta ini dan gunakan untuk membeli sebagian barang dagangan. Gelarlah daganganmu di tempat masuk jalan raya ini dan tawarkan kepada orang yang lewat tentunya. Jika kau berhasil menjualnya, maka merikan padaku hasilnya." Capek ngetik mas brow. Hp nokia 350 ane bisa bejad. Baca Juga: Laki-laki itu pun melakukan perintah tersebut dalam kurun waktu 1 abad yang lumayan lama, sehingga modalnya bertambah sedikit demi sedikit. Kemudian pedagang itu memintanya untuk menyewa kios kecil yang bisa ia gunakan untuk menjual barang-barang sederhana, dengan syarat dia tidak boleh membelanjakan sedikit pun hasil yang diperolehnya, kecuali sekadar untuk makan dan membayar sewa. 1 tahun kemudian, laki-laki itu sudah bisa membuka tempat yang lebih besar dari kios sebelumnya dan mulai menjual barang-barang yang berbacam-macam. Kemudian lambat laun modalnya makin berkembang dan dia bekerja sama dengan pedagang sajadah tersebut pada sebagian akad jual beli. Setelah itu, ketika hartanya bertambah, keduanya membuka tempat yang lebih besar untuk menjual sajadah dan keuntungannya bertambah, sehingga laki-laki itu bisa menjadi pedagang yang memiliki kedudukan yang setara dengannya. Pada suatu hari, pedagang itu berkata kepada sang lelaki, "Bagaimana kondisimu hari-hari ini?" "Baik, Alhamdulillah." "Bagaimana rasanya peluang kerja di Ashfahan? Yang terbaik dari yang pernah ada, kan? Apa kau tidak melihat bahwa harta-harta tersebut dibuang di tanah, sebagaimana yang diceritakan kepadamu di negerimu? Namun, memang orang-orang harus mengetahui bagaimana cara untuk memungutnya." "Benar. Memang demikian," "Apakah kau telah mendapatkan keberuntunganmu di negeri kami ini?" "Ya," Owahaha, pegel jempol mimin