duit-money.jpg

Hari masih pagi benar. Matahara belum lagi menampakkan sinarnya. Di kejauhan nampak seseorang berjalan bergegas sambil membawa kampak. Pak kyai, demikian orang-orang biasa menyapanya. Dia bermaksud menebang sebuah pohon yang dianggap keramat oleh penduduk desanya. Selama ini, hatinya terusik menyaksikan hampir tiap hari orang mengunjungi pohon itu untuk berdoa sambil membawa sesajen.

"Pohon ini harus dimusnahkan. Masyarakat harus diselatkan dari kemusyrikan," begitu pikirnya.

Namun, ketika sampai di pohon itu, tiba-tiba ia dikejutkan oleh hardikan seorang kakek, "Hai, Kyai! Langkahi dulu mayatku sebelum kau tumbangkan pohonku ini!" Kyai tak gentar. Mereka pun langsung terlibat baku hantam serta perkelahian dan ternyata Kyai jauh lebih unggul.

Tinggal sekali pukul lagi, si kakek akan tewas. Namun, di saat kritis itu, si kakek berterak, "Ampun, Kyai. Aku menyerah. Namun sebelum engkau membunuhku, izinkan aku menyampaikan permintaan terakhir! Kau orang yang baik tapi amat miskin," ujar si kakek terengah-enggah. Karena itu, aku ingin menawarkan win-win solution padamu. Selesai shalat Subuh besok, kau akan menemukan uang satu juta rupiah di depan rumahmu. Aku akan menyediakannya tiap hari. Dengan uang itu, kau akan lebih tenang beribadah karena hidupmu sudah terjamin. Kau pun akan dapat membantu fakir miskin."

Kyai setuju. Benar adanya, selama 3 hari berturut-turut ia menemukan uang 1 juta di depan pintu rumahnya. Namun, di hari keempat, uang itu tidak ada. Kyai itu sadar telah ditipu. Segera ia mengambil kapaknya dan mendatangi kakek penunggu pohon tersebut.

Perkelahian pun tak dapat dihindari. Namun, kali ini posisinya terbalik. Pak Kyai malah tersudut. Tinggal sekali cekik, ia akan tewas. Di saat terakhir, Kyai pun bertanya, "Hai kakek tua, mengapa aku kalah hari ini, padahal sebelumnya aku begitu mudah mengalahkanmu?" Setan berwajah kakek itu tersenyum menyeringai seraya berkata, "Kau unggul waktu itu karena niatmu tulus dan ikhlas. Namun, sekarang ketulusan dan keikhlasanmu sudah tak ada. Kau bermaksud menebang pohon ini karena sudah tak mentapat uang 1 juta lagi, bukan?".

Ingatlah! Cerita di atas sebenarnya sering kita alami sehari-hari. Ada banyak ragam stimulus yang sering membelokkan motivasi kita. Secara kasat mata, perbuatan yang kita lakukan mungkin masih sama, seperti halnya Kyai yang menebang pohon tersebut. Namun, motivasinya mungkin sudah berbeda. Tak ada yang tahu kecuali kita sendiri. Perubahan motivasi inilah yang sebenarnya amat menentukan kualitas perbuatan kita.

Apakah Apa yang saya posting bermanfaat? Jika iya, silakan memfollow untuk blog ini agar dapat menikmati update selanjutnya.
follow-blog
Jika Agan-agan berkenan dan berbaik hati, saya mohon ratingannya.
rating
Saya ucapkan banyak kepada agan-agan yang sudah berpartisipasi merating. Ratingan agan-agan adalah bagian dari penyemangat ngeblog buat saya.